BKKBN SULSEL SIAP TINGKATKAN LAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI DI ERA NEW NORMAL

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret lalu sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat tak terkecuali pelaksanaan Program KB yang selama ini mengandalkan kegiatan tatap muka secara langsung dalam sosialisasi, penyuluhan, dan pemberian layanan kontrasepsi serta kesehatan reproduksi. Semasa pandemi, muncul kekhawatiran masyarakat untuk mengakses layanan KB di klinik bidan dan dokter. Selain itu, banyak bidan atau dokter yang menutup kliniknya karena keterbatasan sarana dan perlengkapan dalam mencegah penularan Covid-19.

Melihat kondisi ini, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan Webinar Kesehatan Reproduksi dengan mengusung thema “Cara Baru Menjaga Kesehatan Reproduksi di Situasi New Normal”, Rabu (24/06)

Sebagai bagian dari rangkaian Peringatahan Hari keluarga Nasional ke -27 tahun 2020, kegiatan yang diikuti sebanyak 231 peserta dari berbagai profesi di sejumlah wilayah Indonesia menghadirkan tiga Narasumber yaitu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd, Pengurus Pusat POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia), dr. Leo Prawirodihardjo dan Direktur Rumah Sakit Labuang Baji Makassar, dr. H. Andi Mappatoba, M.B.A., DTAS.

Andi Rita dalam paparan materinya mengatakan BKKBN memiliki tugas utama yaitu mewujudkan keluarga berkualitas dan pertumbuhan penduduk seimbang melalui Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang diterapkan dengan penanaman 8 (delapan) fungsi keluarga.

Selain memprioritaskan program pencegahan penularan Covid-19, lanjut Andi Rita, “penting juga untuk melindungi masyarakat terhadap akses layanan KB dan kesehatan reproduksi, sehingga pelayanan di masa New Normal ini harus digalakkan untuk mengantisipasi terjadinya Baby Boom”

Ia berharap di masa pandemi COVID-19 ini, pelayanan serta promosi serta konseling kesehatan reproduksi tetap berjalan dengan tetap memperhatikan protokol-protokol pencegahan penyebaran virus corona.

Lanjut Andi Rita, menuju New Normal PLKB tetap melakukan koordinasi dengan Bidan, Covid-19 harus putus mata rantainya, pelayanan kontrasepsi dan Kesehatan reproduksi tidak boleh putus. New Normal yang kita lakukan akan menjadi normal yang baru dan kebiasaan yang baru, sehingga dibutuhkan kerjasama semua pihak baik pemerintah, pihak swasta maupun masyarakat.

Dengan adanya kebijakan social dan physical distancing, BKKBN bersama Penyuluh KB didukung petugas kesehatan melakukan sebagian besar kegiatan promosi dan konseling KB dan kesehatan reproduksi dengan memanfaatkan media sosial dan media komunikasi jarak jauh baik secara online maupun offline dengan harapan informasi bagaimana menjaga kesehatan reproduksi dapat tersebarluas di masyarakat

Diakhir paparannya Andi Rita menegaskan jika keluarga merupakan “Agent of Change” dalam membangun kehidupan yang lebih baik dan sehat utamanya dalam mencegah anggota keluarga dari penularan Covid-19”, ujarnya

Dalam kesempatan yang sama, dr. Leo menyatakan tunda hamil menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga kesehatan reproduksi di New Normal, semua metode kontrasepsi modern aman digunakan. Jika sudah terlanjur hamil, beliau menyarankan agar tetap melakukan pemeriksaan ANC minimal 4 kali, agar janin tetap sehat dan berkembang dengan sempurna.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Labuang Baji Makassar, dr. Andi Mappatoba yang pernah bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 menuturkan cara baru menjaga kesehatan pada masa New Normal dapat dimulai dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tingkatkan imunitas dengan menggunakan masker, sering mencuci tangan, jaga jarak, physical distancing dan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

Melalui webinar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi para peserta terhadap isu-isu strategis di bidang kesehatan reproduksi dan mendorong munculnya ide-ide kreatif serta inovasi yang mendukung keberlangsungan pelayanan serta promosi dan konseling kesehatan reproduksi di masa pandemi Covid 19.