TEKAN ANGKA STUNTING, BKKBN SULSEL GENCAR SOSIALIASI 1000 HPK

Untuk menekan angka Stunting yang ada di Sulawesi Selatan, Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan gencar melakukan sosialisasi dan promosi Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait perencanaan keluarga dan pola asuh anak dalam mewujudkan keluarga yang sehat dan berkualitas.

Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dra, Hj. Andi Ritamariani, M.Pd saat hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Materi dan Media KIE Pro PN Pencegahan dan Penangan Stunting di Kelurahan Ma’rang dan Talaka Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Minggu (26/07).

Dengan menghadirkan aparat pemerintah setempat, Kader BKB, Penyuluh KB, Ibu Hamil dan Keluarga yang mempunyai Baduta, kegiatan ini juga dihadiri Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Pangkep Herlina, S.Si, Apt,M.Kes

Dalam paparan materinya, Andi Rita menyampaikan bahwa BKKBN merupakan salah satu lembaga kementerian yang turut serta berperan dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia dengan bereformasi menjadi BKKBN Baru, dengan cara baru menuju era baru.

“BKKBN bukan mengurusi hanya sebatas alat kontrasepsi saja tetapi BKKBN memiliki peran yang besar dalam melaksanakan tugas pemberdayaan keluarga terkait cara pengasuhan anak terutama di periode emas 1000 Hari pertama Kehidpan” ungkap Andi Rita

Lanjut Andi Rita “BKKBN juga fokus mengedukasi  Ibu Hamil dalam pemenuhan gizi serta penyiapan sebelum melahirkan, dan berperan dalam sosialisasi dan pembinaan terkait Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR)” ungkap mantan Kepala BKKBN Sulbar

Andi rita mengatakan bahwa faktor utama penyebab anak lahir stunting itu karena sejak dari kandungan anak kurang memperoleh gizi yang cukup. Sehingga, intervensi yang paling menentukan dalam upaya percepatan penurunan stunting adalah pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) karena pada periode ini disebut sebagai periode emas.

Periode emas inilah terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat yaitu sekitar 70 % valome otak dewasa. Pada periode ini ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk mengatur gizi yang dikonsumsi untuk sang bayi, ibu yang menyusui sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif karena kandungan gizi dalam ASI itu sangat lebih dari cukup untuk sang bayi tumbuh dan berkembang selain itu menumbuhkan kelekatan psikologis jika disusui secara langsung.

Andi Rita menyampaikan bahwa dalam upaya penurunan angka stunting di Indonesia sangat diperlukan kerjasama yang berkelanjutan antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan masyarakat dengan ikut serta dalam mensosialisasikan 1000 HPK, kemudian perlunya perbaikan data terkait angka stunting di setiap desa, Perlunya peninjauan kembali kepada anak-anak yang stunting di kedua desa dengan by name by address.

Terakhir, Andi Rita sangat berharap setelah pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini akan tumbuh kader-kader baru yang mampu mensosialisasikan pentingnya pengasuhan 1000 HPK kepada seluruh masyarakat sehingga angka stunting di Kab. Takalar dapat menurun yang awalnya sudah masuk zona merah dengan angka stunting yang tinggi, bisa ke zona hijau atau bahkan sampai ke angka nol stunting.

Lebih Lanjut Andi Rita mengatakan BKKBN bertanggung jawab dalam penyimpanan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Serta menjadi orang tua hebat bagi remaja dan Baduta

Sementara itu Sekretaris DPPKB Kabupaten Pangkep Herlina menambahkan remaja yang menikah diuasia muda secara psikologis belum siap menjadi ibu dan ayah, juga secara fisik perempuan yang melahirkan dibawah usia 20 tahun sangat riskan melahirkan.