HARI REMAJA INTERNASIONAL, BKKBN SULSEL AJAK REMAJA RENCANAKAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

Memanfaatkan momentum Hari Remaja Internasional yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Webinar Promosi Generasi Berencana (GenRe) melalui Media Online dengan menghadirkan Narasumber Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dra, Hj. Andi Ritamariani, M.Pd dan  Duta GenRe Indonesia tahun 2016, Muhammad Auzan Haq, Kamis (12/08)

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dalam perencanaan kehidupan berkeluarga dimasa mendatang diikuti oleh OPD KB Kabupaten Kota Se-Sulawesi Selatan, Pengelola dan Anggota Kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Se- Sulawesi Selatan dan remaja umum dari sekolah dan kampus.

Andi Rita dalam sambutannya mengatakan BKKBN sebagai Lembaga Negara mengembang tugas pemerintahan di bidang Pengendalian Penduduk dan penyelenggaraan Keluarga Berencana termasuk dalamnya peningkatan kualitas ketahanan remaja dan Penyiapan Kehidupan Keluarga bagi Remaja (PKBR) yang menjadi salah satu Proyek Prioritas Nasional (Pro PN).

Dalam kesempatan itu, Andi Rita mengajak para remaja untuk melakukan perencanaan kehidupan dimasa depan secara terencana sejak dini yang meliputi fase pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan. Untuk itu Ia berharap agar para remaja tidak menikah di usia dini karena secara fisik dan psikologis usia remaja di bawah 20 tahun belum matang.

“Saya mengajak para remaja untuk merencanakan kehidupan berkeluarganya,  menikah di usia diatas 21 tahun  bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki serta merencanakan kelahiran anak pertama, mengatur jarak kelahiran dan berhenti melahirkan saat usia diatas 35 tahun agar memiliki waktu dalam merawat dan mendidik anak” ungkap Andi Rita

Lebih lanjut Ia menyatakan program PKBR sangat penting dalam menciptakan keluarga berkualitas,  yang mana dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Keluarga meliputi tiga dimensi yaitu tenteram, mandiri dan bahagia. Selain itu, dikatakan PKBR dapat menekan angka perceraian pada remaja karena kasus perceraian tertinggi terjadi pada kelompok usia 20 – 24 tahun dengan usia pernikahan belum genap lima tahun yang disebabkan ketidaksiapan dalam menjalani perkawinan.

“Selain itu, perempuan ketika pada masa remajanya tidak tercukupi kebutuhan gizinya, ketika menikah dan hamil terus melahirkan di usia dini memiliki potensi melahirkan anak yang stunting. Oleh karena itu, sebagai calon pasangan yang akan berkeluarga, setiap remaja perlu menyiapkan dan merancanakan kehidupan berkeluarga” ungkap Andi Rita

Andi Rita sangat menyayangkan fenomena pernikahan dini yang kerap terjadi di masyarakat karena dilakukan pada saat salah satu atau keduanya belum memenuhi usia ideal untuk menikah. Selain itu, pernikahan dini memiliki banyak dampak negatif bagi remaja baik dari aspek fisik, psikologis, kesehatan, ekonomi dan sosial.

Duta GenRe Indonesia, Auzan menambahkan bahwa selain permasalahan pernikahan dini saat ini, remaja juga dihadapkan pada kecanggihan teknologi atau media sosial yang bagai memiliki dua sisi yang jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi peluang, dan sebaliknya jika disalahgunakan akan membawa remaja kepada keburukan. Sehingga, remaja yang sekarang berada di era baru ini harus bijak memanfaatkan teknologi yang ada.

“Media sosial yang ada saat ini bisa dimanfaatkan oleh para remaja sebagai media promosi kegiatan dengan membuat gambar, dan video menarik terutama para remaja yang bergabung dengan GenRe yang memiliki tugas untuk menyebarkan substansi GenRe kepada para remaja Indonesia” ungkap Auzan

Auzan berharap Hari Remaja Internasional ini dapat menjadi momentum bagi remaja untuk terlibat dan beraksi secara nyata dengan terus belajar dan berkarya untuk Indonesia, karena masa depan Indonesia berada ditangan para remaja.