Perempuan dibalik ayunan itu bernama Fadillah

Penulis : Irvan Roberto, S.Sos., M.I.Kom

Widyaiswara Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Perempuan dibalik ayunan itu bernama Fadillah. Ia masih berumur 18 tahun. Sehari hari waktunya ia habiskan mengurusi anak lelakinya yg berumur 6 bulan. Suaminya berkerja sebagai buruh bangunan dan sesekali bekerja sebagai tukang service AC.

Ia menikah saat usianya masih 17 tahun. Waktu itu ia masih duduk dibangku SMA. Cinta masa remaja yang salah membuatnya harus mengurusi anak di usia semuda itu. Saat saya berbincang dengan ayahnya yang berprofesi sebagai buruh nelayan, ia menunjukkan raut wajah yg cukup sedih. Sedih karena anaknya tak mampu sekolah setinggi tingginya.

Dengan agak sungkan ia mengakui kalau Fadillah “married by accident”. “Tabrakan” kata banyak orang di kota ini. Pak Aziz menyadari bahwa kejadian ini disebabkan karena ia lalai dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Anak yg ia harapkan kelak menjadi orang sukses dan dapat membahagiakan orang tua.

“Begitulah hidup pak, takdir punya jalannya sendiri sendiri. Kadang apa yg kita harapkan dan rencanakan tak melulu berjalan sebagaimana mestinya”. Kata pak Aziz saat saya wawancarai siang tadi.

Kasus fadillah pada dasarnya menunjukkan kepada kita betapa orang tua punya andil besar akan praktik praktik seperti ini. Dan pemerintah tentu menyadari akan hal itu, oleh karenanya pemerintah hadir melalui beragam program untuk memberikan pemahaman dan bekal pada orang tua bagaimana mendidik anak remajanya.

Cuman sayangnya, dari beberapa keluarga yang saya temui yang anaknya menikah di usia anak, tak satupun dari mereka yang tahu dan tersentuh dengan program program pencegahan pernikahan usia anak milik pemerintah.

Sayang sekali.!!!

 

https://www.instagram.com/p/CHpwtCuH3lkDCxaMHmYo8Kc22LsgaqdGgIy72k0/?igshid=1avpecsin8du8